Saturday, January 21, 2012
Membaca Tanpa harus Diajari
Monday, September 19, 2011
Hilangkan Gengsi Minta Maaf terhadap Anak
- Sadari bahwa anda telah membuat kesalahan, dan akui itu padanya. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Tak jarang ini sulit dilakukan, karena orangtua merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tak ingin masalah terus berlarut.
- Ketika meminta maaf, anda harus tulus. Anak akan gampang mengetahui ketika anda membohonginya tentang hal ini. berilah Maaf yang serius." Ka..Maafin Ummi Sayaaang, ummi salah, Ummi udah menyalahkan Kaka...Ummi akan hati-hati lagi knapa Kaka sampe mukul Azzam" padahal pengalaman ini Azzamlah yang duluan mukul kakanya, karena Kakanya lagi asyik nonton...tanpa sadar, setelah azzam mukul otomatis c kaka mukul kembali adiknya, yang terlihat terakhir, Kakanya yang mukul..kakanya yang salah, padahal nggak begitu, si adiknya disini yang salah...(kasus kecil deh :)) kalo bisa ampe nangislah kita minta maaf, biar terlihat tulus dan serius hehee
- Meminta maaf dalam keadaan emosi akan percuma. Kalau anda belum bisa bersikap tenang, katakan padanya bahwa anda butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.
- Katakan permintaan maaf anda secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap anda yang baru saja terjadi, bukan kepribadian anda. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan anda yang kasar, bukan atas kepribadian yang emosional.
- Jangan balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap anda. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, anda tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja dengan tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.
- Mengatakan bahwa anda bersalah dan bertanya apakah ia mau memaafkannya akan mempermudah untuk mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.
- Bersama anak, lihat kembali bagaimana anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.
- Bagaimanapun juga, anda hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah. Setelah meminta maaf pada anak, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika memintanya tidak mengulang kesalahan.
- Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat anda kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena anda memang bersalah, bukan karena ingin berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya.
2. Anak kurang mamiliki kepercayaan diri
3. Anak tidak dapat mengendalikan diri atau emosi.
4. Anak merasa sedih, tersisih, tersinggung dan lainnya.
5. Anak merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai perasaannya.
Monday, July 04, 2011
Dari Blog menjadi Buku, Beli yuuk
Suka ngeBlog bukan berarti suka nulis, Penulis belum tentu suka ngeBlog, tapi dari ngeBlog juga akhirnya jadi keinginan pengen jadi penulis,
Kita posting Blog hanya sebuah kebetulan dari sebuah ide saat ini, (pengalaman gue ngeblog )
dan tulisan blog berasal kadang dari pengalaman pribadi, yang gue liat, yang gue baca.
Nah situlah timbul Moody posting blog, dari tahun 2006 mengenal Blog, nggak nyangka banget, koq jadi timbul suatu hobby, yaitu Hobby nulis, ya Nulis di Postingan Blog, berawal dari Iseng, cuma ngisi waktu luang dengan ngeBlog.
Banyak yang komentar di Shoutbox blog, itu suatu kepuasan bathin juga, bahwa ada yang baca blog kita, awalnya sempet nggak pede juga seh, tulisan kita dibaca orang, tapi lama kelamaan dan isi komentnya positif, hadeeeuh, tambah semangat deh posting Blog.
Dengan berjalannya waktu nggak terasa juga loh, ada dua penerbit buku di shoutbox minta dibukukan, minta diedit dulu, ah aku nggak kepikiran ke arah sana, nggak kepikiran tulisan yg di Blog di bukukan.
Tapi jadi kepikiran juga, emang postingan diBlog bisa dibukukan gitu, walaah pikiran2 itu masih bimbang, ada perasaan gak Pedenya, tapi lambat laun, banyak bertanya, banyak belajar, banyak baca juga, akhirnya pengennya juga diBukukan.
Awal ngeBlog tahun 2006 nggak punya niat banget dan nggak nyangka sampe aku punya Buku sendiri, Bayangin aja Ide itu dateng saaat ada Semangat baru dari temen2 dan penerbit buku untuk dibukukan, padahal dari segi bahasa ya bahasa sehari2 aja, nggak ada EYDnya, wuiidih kalo di kasih nilai Bahasa Indonesia di postingan Blogku, diangka merah deh
Tapi tetep PD aja, dan Alhamdulillah hari ini dateng master buku perdana ku, pokonya, ketika dateng buku ke rumah, berasa mimpi aja.
Aku baca koq ngerasa aneh aku baca tulisan sendiri ehhehe, bener nggak ini tulisanku, (dalam benakku).:)
Walaupun masih banyak yang rancu, ya itulah gaya bahasaku dalam postingan Blog, ternyata dari Blog bisa jadi buku….Karya yang sangat Abadi, maka berawallah ngeBlog dari detik ini, Menulislah..Postinglah…Menulislah…Bukukan…Semangaaat
Jangan pernah merasa malu juga dengan tulisan kita yang ada di Blog, PD aja kalee hehehe…..Dari Arsip Blog itulah membuahkan hasil jadi suatu Buku, suatu kepuasan yang sangat..Alhamdulillaah...
Moga bermanfaat..
Penasaran kaaan !!!..
Pesen yuk Klik aja nulisbuku.com keburu abis looh.....
Monday, March 21, 2011
SMS Hati dari seorang Siswa

Ibu bukan polisi tapi bisa jaga kitaIbu bukan psikolog tapi bisa memahami kitaIbu bukan guru tapi bisa mengajarkan banyak hal untuk kitaIbu bukan Udara namun sanggup memberikan nafas kehidupannya untuk kitaIbu bukan dokter tapi ibu sanggup mengobati kita,Ibu bukan superhero tapi sanggup jadi pahlawan bagi kita,Itulah Ibu sosok luar biasa yang dihadirkan Tuhan untuk kita, bukan untuk kita Lukai tapi untuk kita hargai dan sayangi...
Sunday, February 27, 2011
Ledakan Motivasi melalui Kemping
Saturday, December 04, 2010
Penting Gak sih RANGKING.?



Tuesday, November 23, 2010
Rumah bagaikan Penjara untuk Belajar
Ah, sepertinya dengan judul diatas emang terjadi dan sering terjadi pada kehidupan kita, tapi nggak mau dong anak-anak kita Rumah seperti penjara bagi mereka, tentunya suasana nyaman yang mereka inginkan, tentunya kita Orangtua pun menginginkan suasana rumah yang harmonis, apalagi anak-anak yang selalu tersenyun, (bukan senyum-senyum sendiri hehehe..)
Yaa ada seoarang anak 5 tahun, yang kesehariannya udah biasa dipaksa dengan belajar..belajar dan belajar, pulang sekolah ngajii..hehehe..aduhh kapan waktu maennya yaa...
Ah sampe anak itu merasa beban, ketika sekali keluar rumah sebentar aja, langsung deh dipanggil, musti masuk rumah, ah ibunya bilang mumpung masih kecil, jadi belajar dari sekarang masih bisa nurut.
Ya Ampun, ketika Anakku jam 1 siang dalam terlelap tidur siang, itu sianak jam segitu musti pergi ngaji, (baru 5 tahun), siang, panas, kadang kita juga orangtua berfikir, males aja keluar rumah jam segitu, apalagi anak, secara otak anak musti istirahat jam-jamnya siang..
Intinya sungguh ngeri banget anak usia tersebut, dimana musti merasakan dunia bermain, ini malah dunianya di pake buat belajar, belajar juga les ke les...aarrgg..moga kita nggak seperti itu, tapi terkadang orangtua gak sadar, bahwa si Anak udah terenggut dunia bermainnya.
Walopun misalnya si Anak tidak bisa tidur siang??..bukankah jam segitu bisa dimanfaatkan buat bermain, dan karena usia 5 tahun bermain adalah Belajar, bukan bermain untuk menulis, membaca, juga les ini, les itu, Apakah dnegan meloncat-loncat, atau maen lego itu uga samakan dengan belajar.....ah...sungguh bagi si Anak tersebut bahwa rumah bagaikan penjara buatnya, Ya Alloh YA Rabb...
Pernah suatu ektika, kebetulan aku ada dir umah, aku tanya si Anak, " ayo de sini keluar maen sama Azzam (kebetulan seusia sama Azzam 5 th), " si anak menjawab ( sianak berada di dalam kaca jendele rumahnya): " nggak boleh sama Mama karena bentar lagi harus mengaji " waduh itu jam 12.30an deh..puanaas lagi.
Eh si mamah nongol juga, katanya : " enggak ah maennya nanti aja dulu, kalo smeuanya udah lancar," maksudnya baca, nulis, plus qurannya, udah lancar baru boleh maen gitu yaa..hehehe
Kebayang disaat anak udah bisa maen keluar itu anak bisa-bisa males belajar, soalnya sekarang dipaksa untuk segala belajar...
Terus saya tanya lagi " kenapa maen dulu sini bentar, " eh ibunya dateng
































